Cara Dedi Mulyadi membangun personal branding di media sosial itu bukan sekadar sering posting—justru kekuatannya ada pada konsistensi karakter + kedekatan emosional + storytelling yang sederhana tapi kuat. Kalau diurai, pola yang dia pakai cukup jelas:
1. Persona yang tegas dan mudah dikenali
Dia tidak mencoba jadi “semua hal untuk semua orang”. Citra yang dibangun:
Pemimpin merakyat
Dekat dengan budaya Sunda
Tegas tapi tetap hangat
Ini penting: begitu orang lihat kontennya, mereka langsung tahu “ini Kang Dedi”.
2. Storytelling berbasis kehidupan nyata
Kontennya jarang yang terasa dibuat-buat. Yang sering muncul:
Dialog dengan warga kecil
Kunjungan ke pelosok
Penyelesaian masalah konkret (sampah, infrastruktur, sosial)
Alih-alih pidato panjang, dia lebih sering menunjukkan aksi langsung. Ini jauh lebih kuat secara emosional.
3. Bahasa sederhana, bukan bahasa pejabat
Salah satu kunci besarnya:
Pakai bahasa sehari-hari (sering campur Sunda)
Tidak kaku atau birokratis
Hasilnya: audiens merasa dia “satu frekuensi”, bukan elit yang jauh.
4. Konsistensi visual dan gaya konten
Kalau diperhatikan:
Video dominan format dokumenter pendek
Minim gimmick berlebihan
Fokus ke interaksi manusia
Ini bikin feed-nya terasa autentik, bukan sekadar kampanye.
5. Memanfaatkan emosi (tanpa terlihat manipulatif)
Kontennya sering menyentuh:
Empati (warga kesulitan)
Harapan (solusi nyata)
Kebanggaan lokal (budaya Sunda)
Emosi ini yang bikin kontennya mudah viral, tapi tetap relevan secara politik.
6. Positioning sebagai “problem solver”
Dia jarang hanya mengangkat masalah. Hampir selalu ada:
Respons langsung
Solusi atau tindak lanjut
Ini membentuk persepsi: bukan cuma bicara, tapi bekerja.
7. Timing dan momentum
Dia pintar memanfaatkan:
Isu yang sedang ramai
Momen kunjungan lapangan
Kontennya terasa “real-time”, bukan hasil produksi lama yang diunggah belakangan.
Hal yang sering disalahpahami
Banyak orang mencoba meniru, tapi gagal karena:
Fokus ke gaya (blusukan, video) tanpa punya substansi
Terlihat dibuat-buat atau pencitraan
Tidak konsisten (kadang serius, kadang random tanpa arah)
Padahal kekuatan utamanya justru di keaslian + rekam jejak nyata.
Kalau kamu ingin meniru strateginya
Yang perlu kamu bangun dulu:
Isu yang kamu perjuangkan (jangan generik)
Akses ke aktivitas nyata (bukan settingan)
Gaya komunikasi khas (bahasa, tone, nilai)
Baru setelah itu pikirkan konten.
Bagaimana Kang Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat Membangun Personal Branding di Media Sosial?
April 28, 2026
0
Tags

